FILIPI 2:1-4

Nasihat supaya bersatu dan merendahkan diri seperti Kristus

2:1 Jadi karena dalam Kristus ada nasihat, ada penghiburan kasih, ada persekutuan Roh, ada kasih mesra dan belas kasihan, 2:2 karena itu sempurnakanlah sukacitaku dengan ini: hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, 2:3 dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; 2:4 dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga.

Ada pepatah mengatakan bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.

Kesatuan merupakan sebuah hal yang powerful. Demikian pula ketidaksatuan. Indonesia contohnya. Setelah dijajah baru disebut dengan Indonesia.

Rasul Paulus banyak menulis surat mengenai kesatuan kepada beberapa jemaat. Salah satunya jemaat Filipi. Dalam kondisinya di penjara, sebuah sukacita bagi Paulus melihat sebuah kesatuan jemaat. Paulus menekankan kepada Eudikia dan Sintikhe sebagai pemimpin jemaat.

1:27 Paulus sudah menghimbau agar hidup jemaat berpadanan dengan Injil. Karena kamu sudah hidup di dalam Kristus, maka inilah yang menjadi dasar bagi jemaat untuk bersatu.

Sebagai orang-orang yang sudah hidup di dalam Kristus kita memiliki tanggung jawab dalam memelihara kesatuan itu. 3 hal ini penting: satu kasih, satu pikiran, dan satu tujuan.

Satu pikiran, bukan berarti kita memiliki pemikiran yang pasti sama akan suatu hal. Pemikiran kita pasti berbeda-beda. Mind kita arahnya tetap sama. Yang kita pikirkan adalah KEPENTINGAN KRISTUS. Kesatuan itu bukan berarti keseragaman. Kepentingan Kristus itulah tujuan kita, bukan mementingkan diri sendiri.

Untuk mencapai tujuan tersebut kita memerlukan KASIH. Sehingga saat kita melihat ada yang berbeda dari kita, kita bisa melihat / menolong kita dapat menikmat kesatuan karena kita tahu dan meyakini kita mengerjakan dan memikirkan Kristus serta kepentingan orang lain. Untuk mencapai ini maka ada kualitas dalam pelayanan kita.

Setidaknya ada 3 hal yang menyebabkan ketidaksatuan:

1. Self ambition. Fil 2:3. Mencari kepentingan sendiri. Membuat kita melayani untuk membuat jemaat bertumbuh, melainkan untuk menonjolkan diri. Sebagai manusia yang hidup di dalam Kristus, self ambition masih mungkin terjadi. Ini kerap menggerogoti kita secara sadar atau tidak.

2. Desire for personal prestige. Keinginan untuk prestige pribadi. Hal ini yang membuat kita merasa diri kita lebih atau paling penting dari orang lain bahkan untuk kepentingan Kristus. Prestige lebih berbahaya daripada kekayaan. Jadi PKK ngga dapat apa-apa. Tapi hati kecil kita mengingini respect dan dihargai.

3. Concentration of self interest. Konsentrasi hanya pada kepentingan pribadi. Jika pelayanan ini hanya untuk kepentingan diri, maka pelayanan ini seperti persaingan/kompetisi. Kalau pelayanan ini untuk kepentingan Kristus maka, semua pelayanan sama pentingnya. Pelayanan ini seharusnya untuk Kristus. Kita bukan KOMPETITOR, melainkan REKAN SEKERJA. Kita semestinya bersyukur dengan semua kondisi yang terjadi dalam dunia pelayanan.

Oleh karena pelayanan untuk kepentingan Kristus maka setidaknya diperlukan dua hal:

1. Kerendahan hati. Mengutamakan kepentingan orang lain bukan kepentingan diri. Kepentingan jemaat. Kita perlu saling memikirkan dan memperhatikan satu sama lain. Perkantas adalah kita demi Kristus. Mari memiliki kerendahan hati.

2. Kerelaan untuk RELA berkorban. Teladan YESUS sendiri. Epafroditus rela bahkan nyaris mati demi pelayanan. Demikian Paulus dan Timotius. Masing-masing rela bayar harga. Mari kita memiliki kerelaan untuk RELA berkorban. Bukan karena terpaksa atau disuruh. Demi mengerjakan kepentingan Kristus dan orang lain.

KESATUAN dalam pelayanan ini dapat terjadi dan terjaga, jikalau kepentingan kita dalam melayani merupakan KEPENTINGAN KRISTUS. Pertanyaannya: Kepentingan siapa yang kita layani selama ini?

Raker Perkantas 16 Juli 2019

Kak Debby, M.Th

(Belum dikoreksi oleh pembicara)

PRIVATE GUITAR IN DEPOK

Hai!

Untuk kamu yang berminat belajar gitar akustik di DEPOK, Jawa Barat, yuk segera hubungi kami ya. Kami dari Eunza sedang merintis Eunza Music.

Jadi buat kamu yang mau belajar gitar untuk:

● lagu klasik, pop, country,

● iringi gereja,

● ataupun sedang membentuk sebuah band,

Jangan ragu segera menghubungi kami ya.

Pengajar: EREZA GANDI, S.sn

Seorang musisi dengan track record the best performing and teaching.

Sumber : google

Untuk lokasi & biaya silahkan hubungi:

WA: 0822.1310.2554

Email: eunzafashion@gmail.com

Siapa yang Salah?

“Apa yang kau lakukan??!!! Mengapa semua berantakkan?!”, tanya Nurani yang kaget melihat sekeliling.

“Dia melakukannya”, tunjuk Ego. “Aku tidak tahu bagaimana harus mengendalikannya, jangan salahkan dan bertanya padaku. Aku tidak peduli lagi”, lanjutnya. “Tanya saja pada dia”, sambungnya sambil menunjuk Kendali yang sulit sekali diam. Ego memilih menghindar dan tidak mau menyatakan dirinya terlibat, karena dia yakin tidak salah. Yah mungkin saja Ego benar, bisik Nurani dalam hati.

“Apa maksudmu bertanya itu?”, terdengar suara Kendali yang kencang sekali sulit dikontrol karena sedang tidak bisa diam. Suara itu yang kemudian membuyarkan lamunan Nurani. Kemudian menatap Kendali. Tatapan penuh pertanyaan. “Mengapa heran? Ini terjadi sudah sebagaimana mestinya bukan?”, sahut Kendali membenarkan tindakannya.

“Jadi benar kau yang melakukannya?”, kembali Nurani bertanya. Masih belum percaya. Karena selama ini Kendali lah yang paling bisa menyikapi segala sesuatu dengan baik, tidak sulit bekerjasama dengannya. Ketika dia sudah bertindak justru semua aman terkendalikan. Tetapi ini sebaliknya! Apa yang sedang terjadi sebenarnya? Tanya Nurani dalam hati. Berharap mendapat jawaban yang pasti.

“Iya benar”, sahut Kendali cepat. Kembali membuyarkan pikiran Nurani yang masih bingung. Lalu Kendali melanjutkan, “Dengar ini ya. Hal yang perlu juga kamu ketahui adalah aku melakukan ini tidak sendirian”. “Lalu?”, tanya Nurani semakin bingung.

Nurani diam. Begitu juga dengan Ego. Mereka saling menatap. “Kau, sangat keras, tidak mau disalahkan, maunya dipahami, sulit berdamai dengan diri sendiri, apalagi untuk berkomunikasi. Sulitnya minta ampun. Kau asik dengan dirimu sendiri, dengan masalahmu sendiri”, sambil menatap Ego, Kendali mengatakan apa yang sebenarnya terjadi. “Kalau kau mudah diajak kerjasama, mudah untuk kita mengendalikam agar tidak berantakkan. Tetapi kau. Kau hanya ingin menguasai. Agar kau bisa eksis. Bisa terlihat dan kau, tidak memikirkan akibatnya yang fatal seperti ini. Buatmu, saat kau sudah menguasai dan bertindak itulah kebenaran buatmu. Sungguh kau tak terkalahkan”.

Ego hanya diam mendengar apa yang Kendali katakan. Sebagian besar memang benar. Ego sangat senang bisa menguasai sesuatu. Itulah kepuasannya. Sulit bagi Ego untuk mengendalikan. Karena itulah dia memerlukan peran Kendali. Tetapi sayangnya, ketika sudah berhasil menguasai, Ego cenderung sulit mendengar apa yang dikatakan Kendali. Bahkan benar-benar tidak terdengar. Semua jadi tertutup. Sebenarnya, ada bagian lain yang bisa didengarnya saat itu. Seringkali suaranya memang tidak begitu kencang.

“Lalu kamu”, tatapannya berpindah kepada Nurani. “Kau sangat memahami kami. Bahkan kau masih bisa berbicara di saat-saat situasi sangat tidak terkendali. Satu hal yang pasti, hanya suaramulah yang paling didengar oleh Ego. Kenapa kamu tidak bersuara lebih keras???! Hah??!!”, suara Kendali semakin meninggi, membuat Nurani sadar, perannya begitu penting dan tidak bisa dianggap enteng. Apalagi kalau Ego ingin berkuasa.

Kemudian mereka semua diam, lalu terisak.

“Lihat semua berantakkan. Semua hancur bahkan perasaan perempuan ini pun sangat kecewa. Kalian tahu mengapa sebenarnya ini bisa terjadi?”.


Tangisan itu semakin kencang. Semakin terisak. Semakin membuat seorang perempuan sulit mengontrol emosinya. “Maafkan aku sayang”, terdengar suara disela tangisan itu. Suara laki-laki disamping perempuan itu. “Percuma”, sahut perempuan dalam tangisannya.

“Lebih baik aku pergi, dan semua baik-baik saja”, perempuan itu tetap menangis dan memutuskan pergi. Tangisannya semakin terisak dan kencang. Tidak tahu apa yang sedang terjadi dalam jiwanya. Semua terasa berguncang. Hancur. Sia-sia. Tidak berguna. Dia hanya ingin pergi setelah semua emosinya terluapkan. Akhirnya berantakkan. Tidak terselesaikan.

ADA APA DENGAN SISWA (?)

Siswa apa yang kau cari? Di hidup ini yang sedang kau lalui,
Masa mudamu indah p’nuh cita-cita, kendati pula banyak onak dan duri.
Siswa apa yang kau cari? Di hidup ini yang sedang kau susuri,
T’rimalah Tuhan Yesus jadi milikmu, maka Dia kan memimpin hidupmu.

Guys, pernah dengar lagu diatas? Sepenggal lagu diatas menggambarkan kondisi siswa yang sebenarnya loh. Masa sich?! Kondisi apa memang ya? Hmm, bukan hanya cinta nih yang bisa ditanya “ada apa dengan cinta?” tapi siswa perlu juga kita tanya! Hehe. Ada apa dengan siswa?

Nah perhatikan yuk. Kalimat yang tertulis dalam lirik lagu diatas senada dengan yang dikatakan oleh bapak Erick Erickson (tokoh psikoanalisa), bahwa masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau masa pencarian identitas/jati diri. Masa-masa remaja identik dengan masa yang penuh dengan permasalahan (banyak onak dan duri), seperti lirik lagu tadi.

Seorang bapak lainnya bernama Stanley Hall mengatakan masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress). yaitu perasaan bergejolak dalam remaja karena adanya berbagai perubahan baik yang terjadi dalam dirinya maupun lingkungannya. Kalau dilihat dari segi usia, usia remaja adalah masa terjadinya perubahan-perubahan yang cepat, termasuk perubahan penting dalam aspek kognitif (mental dengan pola pikir), emosi (mental), fisik dan sosial.

Masa remaja merupakan tahapan perkembangan antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Nah, kalau begini, beberapa permasalahan remaja akan muncul dan biasanya banyak berkaitan dengan karakteristik yang ada pada diri remaja. Kalau remaja gagal dalam beradaptasi dan gagal dalam menemukan identitas dirinya, mereka akan mengalami citra diri buruk, stress serta menampilkan perilaku yang menyimpang seperti kata-kata kasar, tindakan kriminal, krisis identitas, dan lain sebagainya. Mengerikan.

Dunia remaja yang adalah dunia siswa bisa jadi berujung menjadi masa yang paling indah untuk selalu dikenang tetapi bisa juga sebaliknya, menjadi masa paling menyedihkan untuk segera ingin dilupakan. Namun, tahukah kamu apa permasalahan terbesar yang dimiliki oleh seorang siswa? Sadarkah kamu ditengah berbagai permasalahan serta gejolak emosi seorang siswa, mereka adalah generasi penerus masa depan bangsa ini?

Guys, permasalahan terbesar siswa ialah siswa merupakan manusia berdosa yang membutuhkan injil terutama dalam masa pencarian identitas dirinya. Setiap hal yang mereka dapat selagi muda itu yang akan mereka pegang teguh hingga mereka tua, dan akan membentuk karakter mereka dimasa mendatang. Seperti kitab Amsal 22:6 mengatakan “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari jalan itu”.

Nah, karena itu nih guys, dalam masa-masa pencarian seperti inilah para siswa membutuhkan kehadiran Tuhan Yesus sebagai jawaban atas permasalahan hidup serta menuntun dan memimpin hidupnya. Apalagi nich, siswa adalah generasi penerus masa depan bangsa. Wah! Jadi sebetulnya, ada apa (lagi) dengan siswa? Kuy, kita baca lebih lanjut!

Sumber: google

Siswa Membutuhkan Injil
Roma 3:23 “Sebab semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah”. Nah guys, semua orang yang dimaksud disini tidak berbatas umur nih. Ini berarti tidak terkecuali siswa termasuk didalamnya. Siswa telah berdosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah. Mereka akan mendapat upah dosa yaitu maut. Kematian kekal. Roma 6:23a “Sebab upah dosa ialah maut”. Tetapi syukur kepada Allah yang telah memberikan karunia-Nya kepada kita hidup kekal dalam Kristus Yesus, Tuhan kita (23b).

Dibalik setiap permasalahan dalam diri remaja, dibalik setiap kegalauan mereka, dibalik setiap tangis dan tawa mereka, dibalik perilaku-perilaku baik dan menyimpang, dibalik semua itu mereka memerlukan sosok Yesus dalam hidup mereka.
Injil perlu dibagikan kuat dan terus menerus didalam masa-masa pencarian identitas diri mereka. Citra diri yang telah rusak karena dosa, hanya dapat dipulihkan melalui Yesus yang sudah mati di kayu salib. Kondisi siswa saat ini ialah siswa yang membutuhkan Injil. Mereka perlu berjumpa dengan Yesus. Lalu bagaimana mereka dapat mendengar tentang berita mengenai anugerah keselamatan itu? Harus ada yang memberitakannya!

Seperti yang Yesus katakan sebelum naik kesurga dalam Matius 28:19-20 sebagai Amanat Agung Allah untuk menjadikan semua bangsa murid-Nya. Perintah untuk menjadikan murid tidak dibatasi pada usia tertentu loh, jadi dapat kita simpulkan nih bahwa siswa juga salah satu pribadi yang perlu kita layani untuk dijadikan murid Kristus dan diajar taat pada Firman Tuhan. Setuju? Kalo masih belom, nih ada lagi yang perlu kamu tahu tentang siswa.

Masa remaja (siswa) mereka di Sekolah Menengah Atas/Kejuruan (SMA/K) kemungkinan adalah masa terakhir mereka menikmati persekutuan dan mendengar Injil. FYI nih, tidak semua siswa loh melanjutkan ke perguruan tinggi, bisa saja mereka langsung bekerja ataupun pending (menunda kuliah). Nah, jadi dapat disimpulkan bahwa sebelum mereka keluar sekolah sangatlah tepat mereka dilayani sehingga dapat mendengar Injil dan diselamatkan.

Jika mereka dibina sesuai dengan kebenaran Firman Tuhan, maka mereka memiliki kemampuan melayani Tuhan di tempat pekerjaannya kelak di lingkungan keluarga, masyarakat, gereja bahkan dimana saja. Mereka akan mengalami dan menikmati Allah dalam masa pencarian jati diri mereka. Wow! Pekerjaan besar menanti nih. Ada apa dengan siswa? Jelas, mereka butuh Injil! Kalau tidak segera dilayani, mereka akan menjadi serupa dengan dunia ini dan binasa. Ingat juga Amsal 22:6 tadi yac.

Siswa Calon Penerus Masa Depan Bangsa
Teman-teman, ada yang menarik lagi nih yang perlu disimak. Ada apa (lagi) dengan siswa? Nah ternyata dibalik setiap permasalahannya, para siswa memiliki potensi yang sangat besar. Kalau kita pernah dengar tuh ya, banyak siswa memiliki berbagai prestasi dalam bidang akademik, olahraga, seni, dan lain-lain. Siswa punya tenaga, cita-cita, juga punya banyak idea (kayak lagu yac) yang sesungguhnya dapat memberi pengaruh besar loh (garam & terang) bagi gereja Tuhan, bagi sekitarnya, bagi bangsa dan negara, bahkan bagi dunia.

Ditengah kondisi zaman yang semakin sulit dipahami ini, lingkungan dapat membawa pengaruh buruk pada diri siswa (2 Tim 3:1-4). Pengaruh pola hidup hedonisme (mengutamakan kesenangan duniawi) dan individualisme (membuat seseorang menjadikan diri sendiri sebagai pusat hidup) bisa menimbulkan kemerosotan moral yang berujung pada kehancuran sebuah generasi. Jangan biarkan generasi ini tumbuh tanpa karakter! Mau jadi apa nanti pemimpin gereja dan bangsa ini?

Oleh karena itu, pelayanan di dunia siswa adalah pelayanan yang strategis untuk mempersiapkan pemimpin-pemimpin di masa mendatang. Ada ungkapan yang mengatakan “Lebih awal, lebih baik” (the earlier the better), tentunya hal ini juga berlaku untuk konteks pelayanan siswa. Lebih awal para siswa mendengarkan Injil, bertobat dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka, lebih awal juga mereka bisa dididik untuk menjadi murid sejati.

Nah, jadi ada apa (lagi) dengan siswa? Ada potensi besar yang dapat digali dan dikembangkan karena mereka adalah calon pemimpin, generasi penerus bangsa ini. Mari hadirkan generasi muda yang mencintai Tuhan lebih dari apapun dan membenci dosa lebih dari apapun sehingga akan hadir dimasa mendatang para pemimpin yang takut akan Tuhan dan berpegang kepada kebenaran Firman Tuhan. Selamat mempersiapkan diri melayani siswa! “Hai dengar panggilan Tuhan, untuk bekerja bagi Dia. Layani siswa dengan setia, bawa banyak jiwa pada-Nya.”

Soli Deo Gloria. Terpujilah Tuhan.
Oleh Eunike

Ketenangan Pikiran. Damai Sejahtera

Lanjutan. Iya, mungkin ini bisa jadi lanjutan bisa juga tidak ya. Lebih enak jadi kisah yang baru. Mungkin.

Baru kemarin malam. Tepat hampir 24 jam yang lalu saya mencoba menenangkan pikiran saya yang banyak bicara. Akhirnya saya putuskan menulis. Berjudul: ketenangan pikiran.

Bangun pagi hari, lalu saat teduh bersama suami. Apa yang tertulis disana: DAMAI SEJAHTERA. Dijelaskan bahwa ketenangan hati dan pikiran kita bersumber dari damai sejahtera oleh Tuhan Yesus. Sehingga kekacauan pikiran dan kehidupan sekalipun semua bisa ditopang. Saya terkejut, kok bisa pas?! Saya sedang mengalaminya. Kacau. Pikiran juga kehidupan (lebay ngga ya? Ngga sih. Hehe, nanti kalau sekiranya sudah sedikit stabil saya akan tuliskan). Intinya firman Tuhan pagi hari ini sangat menolong, menguatkan, dan menghibur.

Namun apa yang terjadi? Oh, tidak seindah itu rupanya kawan. Ada saja hal-hal yang menghalangi saya menikmati dan merasakan damai sejahtera itu. Lingkungan sangat tidak mendukung: ke kelurahan dan kantor BPJS, belum bisa kelar-kelar urusannya. Ribet. Menyulut emosi. Tantangannya dahsyat sekali untuk bisa menikmati damai sejahtera.😥

Eits, tapi apa benar demikian?

Sampai akhirnya memang saya tidak sanggup dan mencurahkan emosi ke suami yang sayang banget sama saya (Thank God). Dia tetap menolong melihat kalau saya tidak 100% benar.

Hheeeemmmm. Saya menarik nafas panjang, dan kembali diingatkan: damai sejahtera dari Tuhan Yesus tidak dipengaruhi kondisi dari luar. Sebadai apapun yang sedang terjadi, ya nikmati, karena Tuhan Yesus beserta. Buktinya apa? Kehadiran teman hidup, alam yang indah, serta masih dapat merasakan emosi dalam diri, bukankah itu sudah cukup?

Yuk nikmati damai sejahtera itu yang sudah Tuhan taruh dalam hatimu. Jangan batu untuk menerima setiap kondisi. Ingat Tuhan selalu hadir, melalui alam dan orang-orang sekitarmu.

.

.

.

Good nite, good people😘

Eunike

The Emotionally Healthy Leader

Ringkasan buku

Judul Buku : The Emotionally Healthy Leader
Terjemahan : Pemimpin yang Sehat secara Emosi
Penulis : Peter Scazzero
Penerbit : Literatur Perkantas Jawa Timur Surabaya, Cetakan kedua: Februari 2017
Halaman : 23-337


Pemimpin yang Tidak Sehat Secara Emosi

Pemimpin yang tidak sehat secara emosi adalah seseorang yang bertindak dalam suatu kondisi yang defisit secara emosi dan rohani secara terus menerus, kekurangan kedewasaan emosi, dan “kehidupan bersama Allah”. Mereka tidak mampu untuk bisa menopang “pekerjaan bagi Allah” yang dilakukan.

Defisit emosi terwujud secara khusus melalui kepekaan yang sangat kurang.
Defisit rohani umumnya muncul dalam bentuk terlalu banyak melakukan aktivitas. Mereka melayani orang lain untuk membagikan sukacita Kristus, tetapi sukacita tersebut tidak lagi mereka rasakan.

Ketika kita memberi diri untuk menjangkau dunia bagi Kristus tetapi mengabaikan kesehatan emosi dan spiritualitas kita, maka kepemimpinan kita pasti bermasalah.

Sumber: amazon.com

Empat karakteristik dari pemimpin yang tidak sehat secara emosi:
1. Mereka memiliki kepekaan diri yang rendah
2. Mereka lebih memprioritaskan pelayanan daripada pernikahan atau kelajangan mereka
3. Relasi mereka bersama Allah tidak lagi menopang aktivitas mereka bagi Allah
4. Mereka kurang menjalankan sabath

Empat hukum (tak tertulis) yang tidak sehat dari kepemimpinan gereja:
1. Sukses itu harus lebih besar dan lebih baik
2. Apa yang anda lakukan lebih penting daripada siapa anda sebenarnya
3. Kerohanian yang dangkal itu biasa
4. Jangan merusak suasana selama pekerjaan bisa diselesaikan

Belajar menjadi pemimpin yang sehat secara emosi butuh waktu.

Proses lima tahap bagaimana kita belajar dan berubah dari Benjamin Bloom:
1. Menyadari: “memperlambat tempo hidup adalah pikiran yang menarik.”
2. Memikirkan: “tolong saya memahami lebih banyak tentang memperlambat tempo hidup ini.”
3. Menghargai: “saya benar-benar percaya bahwa penting bagi semua orang untuk memperlambat tempo hidupnya.”
4. Memprioritaskan ulang: “saya mengubah seluruh hidup saya, ketika saya melambatkan tempo hidup saya agar saya bisa bersama dengan Yesus.”
5. Memilikinya: “semua keputusan dan tindakan saya didasarkan pada nilai baru ini.”

BAGIAN I : KEHIDUPAN BATIN
Supaya anda dapat memimpin dari suatu kehidupan batin yang dalam dan diubahkan, anda harus:
1. Menghadapi sisi gelap anda
2. Memimpin melalui pernikahan / kelajangan anda
3. Memperlambat tempo hidup demi persekutuan kasih bersama Allah
4. Mempraktikkan dan menikmati sabat

Menghadapi sisi gelap anda
Sisi gelap adalah kumpulan emosi yang liar, motivasi yang tidak murni, dan pikiran-pikiran yang, walaupun umumnya tidak disadari, sangat memengaruhi dan membentuk perilaku anda. Ini adalah bagian hidup yang rusak tetapi kebanyakkan adalah versi tersembunyi dari diri anda. Empat jalur dalam menghadapi sisi gelap anda:
1. Menjinakkan perasaan anda dengan mengenali perasaan anda
2. Menggunakan genogram untuk mengeksplorasi pengaruh masa lalu anda
3. Mengenali keyakinan negatif yang diwariskan pada anda
4. Mencari umpan balik dari sumber yang bisa dipercaya

Dekatlah dengan Yesus saat anda menghadapi sisi gelap anda.

Memimpin melalui pernikahan atau kelajangan anda
Melihat pernikahan dan kelajangan sebagai panggilan. Orang yang menikah: merujuk pada pria dan wanita yang membentuk satu kesatuan melalui sumpah perjanjian – kepada Allah, sesama dan komunitas besar – untuk secara permanen, bebas, setia dan berbuah mengasihi satu sama lain. Orang yang melajang: alkitab mengajarkan bahwa manusia dicipta untuk memiliki hubungan yang dekat dengan Allah, diri mereka, dan sesama. Pernikahan adalah kerangka dimana kita mengerjakan hal ini; demikian juga dengan kelajangan. Hidup melajang bisa dipilih secara sukarela atau dipaksakan, sementara atau jangka panjang, peristiwa tiba-tiba atau dibukakan secara bertahap, orang Kristen yang melajang bisa dipahami dalam dua panggilan yang berbeda:
1. Melajang karena sumpah
2. Melajang karena dedikasi
Pasangan yang menikah menyaksikan kasih Kristus dengan fokus hanya mengasihi satu orang secara eksklusif, permanen dan intim. Melajang –karena sumpah atau dedikasi – menyaksikan luasnya kasih Kristus. Kita perlu menjadikan pernikahan sebagai pesan utama Injil kita. Memimpin melalui pernikahan atau melajang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan dalam persekutuan kasih bersama Yesus.

Memperlambat tempo hidup demi persekutuan kasih bersama Allah
Dalam persekutan kasih, kita terus menerus membuka pintu untuk mengizinkan kehendak Allah mendapat pengaruh penuh pada setiap bidang kehidupan kita, termasuk setiap aspek kepemimpinan kita – dari percakapan yang sulit, pengambilan keputusan sampai kepada mengatur pemicu-pemicu emosi kita. Memupuk relasi seperti ini bersama Allah tidak bisa diburu-buru atau cepat-cepat. Kita perlu memperlambat tempo hidup dan dari situ membangun struktur dan ritme hidup kita sehingga memungkinkan terjadinya penyerahan diri dalam kasih ini secara rutin. Hal ini sifatnya melawan budaya dan memposisikan diri seperti para nabi di zaman dulu. Akan ada kegagalan dan keberhasilan, mengawali dan berhenti, saat anda berusaha mencari tahu apa yang paling baik melihat kepribadian, tanggung jawab, keterbatasan, dan dinamika keluarga anda yang unik. Memiliki pandangan jangka panjang adalah hal yang sangat penting. Kita tidak memperlambat tempo hidup seperti menginjak rem mendadak. Ingatlah bahwa “saya hanyalah pemula”.

Mempraktikkan dan menikmati sabat
Sabat sebagai jangka waktu dua puluh empat jam dimana kita berhenti bekerja, menikmati istirahat, menikmati kesenangan kita dan merenungkan tentang Allah. Sabat sulit dilakukan hari ini, karena:
1. Kita takut apa yang akan kita temukan dalam diri kita
2. Kita menyamakan sabat dengan legalisme atau masa lalu
3. Kita memiliki pandangan yang terdistorsi tentang identitas utama kita
Sabat adalah sebuah permata yang indah. Ada empat lapisan yang sangat bersumbangsih pada pemahaman dan pengalaman saya akan sabat yang ajaib ini:
1. Sabat sebagai inti dari disiplin pembentukkan rohani
2. Sabat sebagai penolakkan terhadap kekuatan jahat
3. Sabat sebagai kesenangan
4. Sabat sebagai tempat pewahyuan
Jika anda menolak melaksanakan Sabat, cepat atau lambat, dalam satu cara atau cara lainnya, anda akan menemukan diri anda roboh – secara emosi, fisik, dan / atau rohani. Dalam keadaan yang rapuh seperti inilah, Allah akan mulai memperbaharui anda, dan Dia akan menawarkan kembali Sabat tersebut.

BAGIAN II : KEHIDUPAN LAHIRIAH
Saya memilih memfokuskan pada empat tugas penting dalam kehidupan lahiriah seorang pemimpin:
1. Perencanaan dan pengambilan keputusan
2. Pembentukkan budaya dan tim
3. Kekuasaan dan batasan-batasan yang bijak
4. Mengakhiri dan mengawali yang baru

Perencanaan dan pengambilan keputusan
Karakteristik dari perencanaan dan pengambilan keputusan yang sehat secara emosi:
1. Mendefinisikan sukses sebagai tindakan radikal melakukan kehendak Allah
2. Menciptakan ruang bagi persiapan hati
3. Berdoa meminta kebijaksanaan
4. Mencari Allah dalam keterbatasan kita

Melibatkan hal-hal yang sudah kita pelajari bisa membantu anda lebiih hati-hati dan bijaksana dalam mengambil keputusan, melindungi anda agar tidak menyamakan kehendak anda dengan kehendak Allah.

Pembentukkan budaya dan tim
Ketika budaya dan tim dalam organisasi sehat, hal-hal dibawah ini akan terlihat:
1. Performa kerja dan pembentukkan rohani pribadi tidak terpisahkan
2. Masalah di depan mata diakui dan dikonfrontasi
3. Memberi waktu dan tenaga bagi pengembangan rohani pribadi dan tim
4. Kualitas pernikahan dan kehidupan lajang dilihat sebagai fondasi.
Agar bisa memiliki harapan untuk berhadapan dengan ketidakdewasaan atau para anggota yang bermasalah, pertama-tama kita harus berfokus pada perubahan rohani kita sendiri. Ketika kita masuk ke dalam jenis kepemimpinan ini, kita seperti Abraham, meninggalkan “negara, bangsa, dan tempat tinggal ayah kita untuk pergi ke suatu tempat” yang asing (lihat Kejadian 12:1). Dengan kata lain, ini adalah wilayah baru yang akan terasa tidak nyaman, setidaknya pada awalnya. Tapi satu hal yang pasti: anda akan bertemu Allah.

Kekuasaan dan batasan-batasan yang bijak
Mengatasi masalah kekuasaan adalah ujian sebenarnya bagi karakter dan kepemimpinan. Apapun sumbernya atau seberapa besar kekuasaan dan pengaruh yang anda miliki, kita mendapatkannya dari Allah. Semakin besar kekuasaan yang kita miliki, semakin besar pengaruh yang kita punya – sengaja ataupun tidak – terhadap orang-orang di sekitar kita. Kebutuhan kita yang penting adalah menyadari bagaimana kita menjalankan kekuasaan itu. Kita harus belajar apa artinya menggunakan kekuasaan kita, sesudah itu bagaimana menetapkan batasan-batasan yang bijak dan sehat dalam relasi kita dengan orang lain.

Karakteristik dari kekuasaan yang sehat secara emosi dan penetapan batasan-batasan yang bijaksana. Ujian yang baik terhadap karakter seseorang adalah bagaimana mereka menghadapi kesulitan. Tapi ujian terbaik terhadap karakter pemimpin adalah bagaimana mereka menggunakan kekuasaan. Jika kita ingin menggunakan kekuasaan kita dengan baik sebagai pengikut Kristus, ada tiga hal yang harus kita lakukan:
1. Mengidentifikasi dan menginventarisasi kekuasaan kita
2. Menggunakan kekuasaan kita dengan benar sehingga dipakai untuk melayani orang lain
3. Mengakui dan mengawasi relasi ganda kita

Mengatur kekuasaan dan menetapkan batasan-batasan yang bijak merupakan tugas paling menantang dalam kepemimpinan. Sikap berdoa dan hati-hati harus tetap ada. Bangun sikap saling mengawasi di antara orang-orang yang anda percaya dari cari pembimbing yang bijaksana. Anda akan bersyukur jika anda melakukannya. Kemampuan untuk berpikir secara jelas tentang kekuasaan dan batasan-batasan bisa memperlengkapi kita untuk berpegang teguh pada peran dan tanggung jawab yang telah Allah berikan kepada kita. Ketika kita melakukannya, kita belajar bahwa kekuasaan dan tanggung jawab yang kita nikmati sekarang suatu hari nanti akan berakhir.

Mengakhiri dan mengawali yang baru
Karakteristik dari mengakhiri dan mengawali sesuatu yang sehat secara emosi. Walaupun proses mengakhiri dan mengawali sesuatu hampir selalu kompleks, kami bisa berkata bahwa kami sudah membuat transisi yang sehat ketika proses kami melalui empat tahap:
1. Kita menerima akhir dari sesuatu adalah sebuah kematian
2. Kita mengakui bahwa akhir dari sesuatu dan menunggu di “waktu antara” seringkali lebih lama dari yang kita bayangkan
3. Kita melihat akhir dan menunggu sesuatu sebagai hal yang tak terpisahkan dari pendewasaan pribadi kita dalam Kristus
4. Kita menegaskan bahwa akhir dan menunggu sesuatu adalah pintu masuk kepada awal yang baru.

Semua tahapan ini memiliki karakteristik yang khas, tapi tidak harus terjadi secara berurutan. Anda bisa yakin bahwa ketika anda menghadapi akhir dari sesuatu dan awal yang baru dalam kepemimpinan, anda akan menghadapi beragam ketakutan dan keraguan. Jika kita tetap di dalam jalur bersama Yesus, selalu ada awal yang baru.

Note: kalo di copas, mohon sertakan sumber yaaa✅😊

God bless you

Ketenangan Pikiran

Ketenangan pikiran. Semua orang pasti menginginkannya bukan?

Ketenangan yang akan menimbulkan kenyamanan.

Namun kenyataan, ketenangan pikiran akan sulit didapat selama kita ada didunia.

Eits, iya sulit kalau kita tidak lagi menyerahkan pikiran ini kepada Sang Khalik.

Jadi, tetap ada HARAPAN saat tidak mendapati ketenangan pikiran.

.

.

.

.

Selamat malam,

Kiranya dapat istirahat dengan pikiran yang tenang.

Eunike